Skip to Content

Cetak Biru

Professor Sutami pernah memberikan pengertian terhadap arti kata istilah blue print. Cetak biru ? Ya, itu kalau diterjemahkan kata demi katanya. Tapi Professor Sutami tak sekedar melakukan translasi istilah blue print menjadi artinya cetak biru.

Mayjend. Raja Inal Siregar (alm), mantan gubernur Sumatera Utara, pernah mencetuskan sebuah slogan, bunyinya : Marsipature Hutanabe. Itu bahasa Batak. Artinya sebuah ajakan bagi seluruh putra-putra Sumatera Utara, geneakologis maupun naturalisasi, yang tersebar di manapun di Indonesia maupun luar Indonesia, untuk tidak melupakan kampung halamannya dan ikut berpartisipasi positif memberi sumbangsih membangun kampung halamannya. Kira-kira begitu jabaran makna ringkasnya.

Sebuah ucapan yang baik-baik, apakah sebuah bentuk perintah langsung maupun kalimat keterangan, adalah adalah senandung harapan dan surat cinta : berharap kepada pihak-pihak yang dituju agar mau berbuat dan memenuhi harapan yang mengucapkannya.

Sebuah ucapan, maknanya selalu bersudut pandang dari yang mengucapkan. Artinya, yang mengucapkan kata tersebut yang paling memahami maksud dan tujuan ucapannya. Dengan demikian, tentu saja terbuka kemungkinan pihak lain yang mendengar ucapan atau membaca sebaris kalimat dari seseorang, bisa saja tidak tepat dalam memahami dan menanggapinya.

Kalau begitu bagaimana ? Diperlukan koridor yang mampu membatasi luasnya pemahaman sebuah makna ucapan atau kalimat, sehingga pemahaman dan penanggapannya menjadi sebuah pengertian yang obyektif : tepat sasaran, tepat guna dan dipahami bersama.

Suati hari, saya bertamu ke rumah seorang teman. Kepada teman tersebut saya berkata “saya haus”, maka si tuan rumah buru-buru mengambil gelas, menuangkan persediaan air minum ke dalam gelas tersebut kemudian menghidangkannya ke saya. Saya sebagai pihak I yang mengucap deklarasi pernyataan “saya haus”, teman saya pihak II yang mendengar deklarasi ucapan saya tersebut. Deklarasi ucapan saya tersebut ternyata bisa dipahami oleh umum dengan pengertian yang sama.

Bagaimana bisa ?

Melalui ibu di pendidikan dasar rumah tangga dan bapak-ibu guru di pendidikan lanjutan, kita diajarkan untuk mengenal dan memahami bahasa Indonesia : bahasa adalah alat untuk menyampaikan bentuk kesadaran yang terstandarisasi.

Waktu saya masih kecil dan sedang manja-manjanya dalam buaian ibu, saya cukup merengekan saja “bu, haus”. Beliau akan mengambil gelas, menuangkan persediaan air minum ke dalam gelas tersebut kemudian menghidangkannya ke saya. Begitulah, sehingga hal tersebut tertanam menjadi keadaran dan pemahaman kita bersama.

Waktu di Medan, iseng-iseng mengisi waktu luang apabila libur kantoran, saya bertani : menanam padi di sawah atau palawija di kebun. Karena sangat tak luas, maka tanah cukup digarap dengan sangat konvensional menggunakan peralatan sederhana : cangkul.

Cangkul adalah istilah bahasa. Bentuknya seperti ini, seperti ini dan seperti ini. Sebagai alat untk membalikan tanah pada saat proses penggarapan lahan sawah atau kebun. Cara menggunakannya seperti ini dan itu. Digunakan pada saat ini dan itu. Demikian visualisasi bentuk kesadaran dari satu istilah bahasa tentang “cangkul”.

Jadi istilah bahasa tentang “cangkul” tak hanya menerangkan visualisasi sebuah bentuk benda semata, namun sangat meluas dan saling berkaitan : menerangkan sebuah gagasan lengkap tentang bertani, alat peralatan, teknologi, ruang dan waktu serta cara mengujudkan pertanian tersebut menjadi sebuah kenyataan.

Dengan demikian, tak hanya sekedar alat untuk menyampaikan bentuk kesadaran terstandarisasi, lebih lagi, bahasa adalah alat untuk mengungkapkan kesadaran ilmiah, bahasa adalah alat untuk menyampaikan kesadaran konsepsi yang obyektif : tepat sasaran, tepat guna dan menjadi pemahaman bersama.

“Cangkul” sebagai istilah bahasa adalah sebuah konsepsi, konsepsi adalah menuangkan gagasan kedalam jabaran visi dan misi.

Visi adalah cita-cita atau harapan yang ada gambaran ujud kenyataannya, misi adalah cara mengujudkan visi tersebut : alat apa yang dipakai dan bagaimana teknologinya.

Saya lupa sumber referensinya, tapi kalau tak salah, definisi dari teknologi adalah : ability to use man, tools and equipment to serve the wants of subyek. Jadi, teknologi adalah kemampuan menggunakan SDM berikut alat dan perlengkapan untuk memenuhi keinginan subyek dan mencapai tujuan.

Visi dan misi tak bisa terpisah, visi tanpa misi hanyalah mimpi bunga tidur, hilang gambarannya ketika kita terbangun dari tidur, tak ada ujud kenyataannya. Juga tak akan pernah ada misi tanpa visi.

Ketika saya memegang cangkul, saya berharap hasil panen, namun untuk menuju hasil panen saya harus menguasai cara bertani, cara menggunakan alat dan memilih teknologi yang tepat agar hasilnya seperti yang diharapkan.

Comments are closed.